Thursday, May 30, 2019
First Step of Becoming A Mother (Progress Diary)
Assalamu'alaykum..
Waaah dah lama banget gak nulis di blog. Tiap kali posting, kata-katanya itu mulu. Abis posting satu, trus hibernasi lagi. Hahahahaaha.. Dasar blogger gak fokus.. --" Kalo liat ini blog masih primitif, mohon dimaklumi yaa saya blogger angkatan lawas yang gak ngikutin perkembangan blogging.
Jadi, aku belum hamil. Usia pernikahanku sudah mau enam tahun. Sebenarnya bukan karena ada masalah kesehatan, kami sudah memeriksakan diri ke obgyn dan alhamdulillah kami berdua sehat. Hanya saja, niat untuk jadi orangtua belum juga 100% mantap. Orang-orang terdekatku yg sekarang pasti tau alasan menyedihkannya dan tau culprit-nya. Biarlah jadi luka lama yang sebentar lagi insyaAllah sembuh. Biarlah itu jadi pembelajaran pribadi agar ke depannya aku bisa jadi ibu yang baik, yang memahami dan mensupport anak-anaknya (bukannya anak-anak yang harus memahami psikologis orangtuanya), yang lembut serta sabar dalam membimbing anak-anaknya dengan cara yang tepat, dan yang tidak terpaku pada pola parenting lama, alias mau terus belajar mengenali dan mengedukasi diri demi kebaikan keluarganya maupun dirinya sendiri, demi membangun peradaban. That's the mother I wanted to have, and that's what I will be, insyaAllah. Aamiiiiin..
Aku mulai sadar, usiaku tidak lagi muda. Apalagi suamiku yang usianya lima tahun di atasku. Tapi aku harus buang jauh-jauh pemikiran "seharusnya udah punya anak", karena timing tiap orang berbeda. Kalau aku benar-benar belum siap, ya gak bisa dipaksakan. Daripada nasi terlanjur menjadi bubur dan aku masih belum bisa healed dari luka lama itu, trus jadiin anak sebagai pelampiasan emosi yang buruk. Lebih baik aku sembuhkan hatiku dulu, biar lebih siap jadi orangtua yang menghadapi berbagai macam, bahkan mungkin bertubi-tubi kejadian yang bikin jantung balapan. We'll never know, right?
And now it seems like I'm doing fine at healing my own self. Time bomb emosi yang selama beberapa waktu ini masih sering meledak tiba-tiba, sekarang intensitasnya udah lebih jarang, alhamdulillah. Tapi memang belum sepenuhnya bisa nerima, kadang masih suka keingetan. Trus bengong. Trus jadi nangis sambil dalem hati "semua gara-gara.....", "kenapa sihhhh kok gitu banget sama aku?" I don't know why they hate me. Apa karena menurut mereka, aku memiliki sebuah kelebihan yg mereka gak punya? Apakah mereka menganggapku sebagai sebuah ancaman yang bisa outshine them? *Pede banget ya, tapi namanya juga ngehibur diri hahaha*
Tapi alhamdulillah aku sudah memiliki support system yang awesome. Kadang, memang orang-orang baru justru bisa membuatmu menemukan rasa kekeluargaan yang tidak ditemukan di keluarga sendiri.
Back to the topic of becoming a mother (maap melebar kemana-mana topiknya ya), bagiku, sembuh dari trauma luka batin adalah langkah pertama agar lebih siap menjadi ibu yang baik. I'm still on my way, but I'm getting there soon, insyaAllah. Caraku untuk (bertahap) sembuh:
- First of all, aku senang baca quotes. Kadang, mereka bisa mewakili apa yang kurasakan. Kadang, mereka juga bisa menuntunku untuk meredakan apa yang seorang teman pernah katakan padaku, "aku lihat api yang gede banget di kamu, kamu sendiri bakalan susah memadamkannya."
- Kedua, Al-Qur'an. Sounds lame? Tapi bener lho. Walau mungkin masalah gak langsung beres dalam sekejap abis baca satu juz, but at least hati jadi lebih kalem.
- Ketiga, kenali diri. Pelajarin deh sedikit ilmu psikologi, meskipun bukan anak fakultas psikologi. Dari situ, aku belajar tentang toxic person, cara untuk mengatasi mereka, dan bagaimana biasanya nasib korban dari toxic person, serta apa yang bisa dilakukan untuk membangun konsep diri dan self esteem yang positif agar victim bisa menjalani hidup dengan normal dan seharusnya. Alhamdulillah yaa sekarang ada google, beda sama jaman dulu yang akses ke ilmu itu masih susah dan privilege banget cuma buat anak orang kaya atau anak yang kemauannya kuat banget nyari ilmu. Sekarang, tinggal ketik keyword singkat yang sifatnya curhatan, langsung muncul link-link website yang punya atau bahas tentang pengalaman yang sama. Dan dari google juga, aku baru menyadari, bahwa toxic person ini juga punya trauma dan luka batin, yang sudah terlambat untuk disembuhin karena udah mengakar banget. Sekarang aku sudah cukup besar, aku bisa memahami apa yang mereka pikirkan ketika dulu, hanya saja mereka salah memilih cara untuk mengungkapkan perasaan mereka.
- Keempat, terima kenyataan. Kalo gak bisa cepet, ya perlahan-lahan aja. Gak bisa 100% ya mulai dengan bite size portion aja.
- Kelima, praktekin ilmu psikologi yang didapet. Biasanya kalo aku nerima perkataan atau perlakuan buruk, aku akan langsung koar-koar protes dengan amarah. Sekarang, berusaha gak masukin ke hati aja. Kalo gak bisa hindari perkataan/perlakuan buruk orang lain, ya hindari orangnya dulu sampe hati dirasa sanggup menghadapi dan membiarkan diri menerima itu. Curhat dulu sama support system, supaya dapet masukan yang objektif dan terbaik, plus ditenangin mereka hehe.
- Keenam, show them how to show love. Atas anjuran seorang sahabat, lebih baik aku duluan yang mulai menunjukkan cinta dan kasih sayang. Dengan harapan, lama-lama mereka melunak dan mendapat contoh bagaimana menunjukkannya juga. Mungkin mereka juga tidak mendapatkan itu dari keluarganya terdahulu, jadi tidak tau bagaimana caranya dan harus "diajari." I love them, really, but sometimes they make me hate them. I know, they must feel the same about me. Karena manusia ga akan pernah bisa sempurna, pasti ada hal-hal miscellaneous yang menyebabkan emosi, lalu alam bawah sadar masing-masing jadi saling menolak-saling disagree. Tapi seperti yang suamiku sering katakan padaku kalau aku sedang tidak bisa kontrol diri dan berubah menjadi mereka (toxic person) saat sedang emosional terhadapku dulu, "Masih sayang gak sama aku? Lebih besar mana, rasa marahnya atau rasa sayangnya?" Kalau sayang, ya tunjukkan rasa sayangnya, bukan sebaliknya malah menunjukkan amarah agar orang yang disayang bisa dipaksa jadi sesuai yang diharapkan dengan cara diancam gak disayang lagi.
At some points, cara ini berhasil sedikit melunakkan mereka pelan-pelan. Walau masih saja nyoba mancing-mancing biar aku triggered dan jadi emosional, mungkin mau cek ombak dan kalau aku kepancing, mereka akan merasa "haha ternyata saya masih punya power di atas kamu." Tapi alhamdulillah aku sudah bisa cut off pancingannya dan menghindar sejenak, lalu muncul kembali dengan sikap penuh kasih sayang. Eh gak penuh banget sih hihihi, aku juga masih suka awkward kalo berlaku penuh kasih karena seumur-umur jarang dapet kasih sayang.
Orang-orang seperti mereka, lebih butuh dihujani cinta dan kasih sayang, karena seumur hidupnya tidak punya support system yang memadai. Untuk orang seperti aku, yang sudah sadar dan harus bisa menghentikan siklus balas dendam, juga harus lebih fokus menyayangi dan disayangi oleh support systemku, dibanding galau memikirkan mereka yang menyakitiku. Aku harus bisa!
If you stumble upon this page and you're reading this (and you don't find that I have children yet), please pray for me. Semoga siapapun yang baca ini, Allah mudahkan dan lancarkan segala urusannya, sehat selalu, Allah wujudkan keinginan baiknya, dilindungi dari segala macam keburukan, kejahatan, kemalangan, dan semoga bahagia luar dalam. Aamiin.
-RY
Subscribe to:
Posts (Atom)
